Imbas Smartphone pada Perilaku dan Kehidupan Anak-anak

Imbas Smartphone pada Perilaku dan Kehidupan Anak-anak

Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, sekarang ini banyak orang tua yang ketika mensekolahkan anak-anaknya tak lupa untuk membekali sang buah hati dengan perangkat mobile atau smartphone. Tujuannya memang tidak macam-macam karena para orang tua berharap agar anaknya tersebut dapat dengan lebih cepat menghubungi mereka ketika terjadi apa-apa atau sedang membutuhkan sesuatu. Dengan kata lain hanya sebagai alat komunikasi praktis saja.

Sayangnya sekarang ini banyak orang tua yang justru kurang mengetahui bahwa justru kepemilikan smartphone di sekolah oleh anak-anak justru membuat mereka rentan menjadi korban bullying oleh teman-teman atau anak-anak yang lainnya. Hal tersebut berdasarkan penelitian dari peneliti di Massachusetts Aggression Reduction Center.

Dalam penelitian tersebut terbukti bahwa lebih dari 70 persen anak-anak yang membawa perangkat smartphone ke sekolah dari 4,500 siswa dan siswi Sekolah Dasar di Amerika Serikat menjadi korban bullying. Memang ada beberapa dari mereka yang membawa smartphone ke sekolah menjadi pelaku dari bullying tersebut, namun mereka juga kerap berdiri sebagai korban, menurut penelitian tersebut.

Tidak ada penjelasan secara mendetail, hanya saja, para peneliti mengatakan bahwa aksi bullying tersebut terjadi karena masalah kecemburuan sosial dan juga keterbatasan mengenai informasi terkait masalah penggunaan perangkat mobile itu sendiri, baik oleh anak yang bersangkutan ataupun dari pihak orang tua.

Oleh karena itu, para peneliti dengan mengambil dasar data yang mereka kumpulkan, maka dapat menciptakan solusi tepat agar dapat memangkas aksi bullying serta memberikan pembelajaran kepada orang tua dan anak terkait masalah penggunaan perangkat mobile secara sehat dan aman.

Dan dari penelitian tersebut akhirnya muncul satu pertanyaan, bijakkah dan kapankah kita sebagai orang dewasa atau orang tua memberikan anak sebuah alat komunikasi, dalam hal ini smartphone? Berikut beberapa poin pemikirannya.

1. Pengubah pemikiran

Dalam beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak yang sudah diperkenalkan dan dibebaskan untuk memiliki screen time lebih atau bahkan mempunyai smartphone sendiri akan lebih sering menjadi pelaku atau justru menjadi korban bullying. Selain itu, tidak sedikit dari anak-anak yang sudah memiliki smartphone sendiri akan mengalami perubahan pemikiran dan lebih preventif terhadap segala hal, termasuk ketika perangkatnya ingin diperiksa oleh orang dewasa atau orang tuanya.

2. Overstimulasi

Menurut banyak penelitian lain menyebutkan bahwa anak-anak yang sudah memiliki smartphone sendiri atau setidaknya mempunyai screen time berlebih dibandingkan anak-anak lain, maka akan mendapatkan imbas berupa overstimulasi yang efeknya mengenai langsung pada sisi mental dan pemikiran. Para ilmuwan mengatakan bahwa dengan overstimulasi tersebut membuat anak-anak akan merasa frustasi, takut dan tidak percaya diri ketika harus berada dan beraktivitas di dunia nyata. Bahkan tidak sedikit dari mereka akan merasa bosan dengan aktivitas dunia nyata karena menganggap aktivitas secara online atau melalui perangkat mobile atau gadgetnya lebih menarik.

3. Pembantah

Tidak sedikit dari anak-anak yang akhirnya menjadi pembantah kepada orang dewasa atau orang tua karena dikaitkan dengan kepemilikan screen time lebih atau juga smartphone. Hal tersebut dikarenakan mereka merasa sudah memiliki dunia sendiri yang mereka anggap menyenangkan karena mereka dapat berlaku sesuka hati tanpa batasan atau ikut campur orang tuanya. Oleh karenanya, ketika mereka mendapatkan larangan, perintah atau apapun dari yang lebih dewasa dan orang tua, anak-anak akan membantah dan melawan jika tidak merasa menyenangkan atau menguntungkan mereka secara umum.

Jadi dengan 3 pemikiran di atas, maka dapat dijadikan sebagai pemikiran apakah bijak memberikan screen time berlebih apalagi menyerahkan smartphone kepada anak-anak di bawah usia yang tepat?