Sering Terjadi Gempa, Indonesia Justru Belum Memiliki Teknologi dan Alat Khusus untuk Mendeteksinya

Sering Terjadi Gempa, Indonesia Justru Belum Memiliki Teknologi dan Alat Khusus untuk Mendeteksinya

Sebuah gempa besar berkekuatan 7,4 skala richter (SR) yang diikuti tsunami dengan ketinggian sekitar 1,5 sampai 3 meter menghantam daerah Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah serta Mamuju, Sulawesi Barat pada hari Jumat (28/9) sore menjelang petang.

Menurut data yang terkumpul, lebih dari 800 orang ditemukan tewas akibat bencana alam tersebut dan ratusan orang lainnya hilang atau belum diketahui keberadaannya. Selain itu, kerugian materiil mencapai triliunan Rupiah.

Terkait dengan hal ini, Rudy Suhendar selaku Kepala Bagian Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan bahwa sampai sekarang ini belum ada teknologi yang benar-benar akurat untuk dapat memprediksi terjadinya gempa bumi sampai dengan tingkat magnitudonya.

Menurut Rudy, sedikit berbeda dengan bencana alam lainnya, gempa bumi merupakan gejala alam yang sangat sulit diprediksi dan datangnya pun secara tiba-tiba. Rudy juga menjelaskan bahwa sampai sekarang ini yang berkaitan dengan gempa bumi yang dapat diprediksikan hanyalah pada potensi magnitudo maksimal serta dampak akan intensitasnya saja, untuk masalah datang atau selebihnya, hal tersebut sangat mustahil untuk dapat diprediksikan karena memang belum ada atau tersedianya alat untuk melakukannya.

Apa yang dikatakan Rudy tersebut memang ada benarnya, karena sejauh ini untuk memprediksikan datangnya tsunami, ada alat yang dikenal dengan nama Buoy Tsunami. Alat ini dipasang untuk mendeteksi dan mengamati pasang surutnya gelombang air laut dengan menggunakan Tsunamy Early Warning System (TEWS). Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setelah bencana yang melanda Aceh dan sekitarnya pada tahun 2004 lalu, ada 22 Buoy Tsunami yang telah dipasang secara tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Sedangkan untuk memprediksikan bencana alam berupa gunung berapi, sudah ada yang dinamakan seismometer atau nama lain untuk seismograf dan tiltmeter. Sedangkan sampai sekarang, Indonesia sebagai negara yang berada di deretan patahan  palung dunia yang setiap saat dapat bergeser dan menimbulkan kekuatan besar justru belum memiliki alat untuk mendeteksi gempa bumi.

Namun bukan merupakan salah Pemerintah Indonesia juga kenapa belum adanya teknologi dan alat khusus untuk mendeteksi gempa bumi. Pasalnya di berbagai negara, bahkan di Jepang sebagai negara yang sangat rawan terhadap gempa pun juga masih belum mempunyai alat pantau khusus yang benar-benar tepat untuk melakukan pendeteksian terhadap ancaman gempa.

Hanya saja, selama bertahun-tahun ada banyak project yang dilakukan untuk menciptakan peralatan dan teknologi khusus untuk mengetahui gempa beberapa jam atau beberapa hari sebelum benar-benar terjadi. Salah satunya yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Mullard Space Science Laboratory (MSSL) di University College London pada tahun 2016 lalu berhasil menciptakan prototype yang dinamakan TwinSat.Teknologi ini diklaim mampu mendeteksi pergerakan lempeng dasar bumi agar dapat mengetahui gempa jauh sebelum terjadi dengan menggunakan pemindaian via satelit di luar angkasa.

Selain itu telah dikembangkan pula teknologi sejenis yang diberi nama Omron D7S Seismic Sensor. Alat ini diklaim mampu melakukan pemetaan intensitas gempa sampai dengan menyediakan informasi terkait risiko bangunan-bangunan yang dapat runtuh. D7S tersebut dilengkapi dengan sensor yang menggunakan teknologi algoritma untuk dapat menciptakan pengukuran secara presisi terhadap suara dan getaran yang dapat menimbulkan gempa atau sebelum bencana tersebut terjadi.

Tidak hanya itu saja, selain D7S atau juga TwinSat, ada pula berbagai macam perangkat teknologi yang diciptakan khusus untuk memprediksi terjadinya gempa. Hanya saja,  peralatan seperti ini di Indonesia masih dalam taraf perancangan, pengujian dan pembuatan oleh pihak Badan Geologi Kementerian ESDM.